Penanganan sampah secara swa-kelola yang dilakukan oleh warga Desa
Sukunan, Sleman-Yogyakarta mendorong tiga Badan Keswadayaan Masyarakat
(BKM) di Kabupaten Pekalongan untuk belajar langsung dari sumbernya. BKM
Tunas Karya Mandiri Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni Kabupaten
Pekalongan bersama-sama dengan BKM Kemasan Kecamatan Bojong dan BKM
Samborejo Kecamatan Tirto didampingi oleh Tim Teknis Program Penataan
Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) yang terdiri dari
Konsultan Kabupaten (Korkot PNPM-MP Kab. Pekalongan) dan dinas terkait
yang meliputi Dinas PU, Dirjen Cipta Karya dan PIP, Dinas Kesehatan,
Dinas Pertanian, Dinas Indag, Dinas Lingkungan Hidup; Jum’at (7/6)
kemarin mengadakan studi banding, guna mempelajari proses pengeloaan
sampah yang dilakukan di desa tersebut.
Sampah yang selama ini kita anggap sebagai barang yang tidak
berharga, menjadi rupiah bagi warga di desa Sukunan, mereka memilah
sampah rumah tangga menjadi tiga bagian yakni sampah organik yang
terdiri dari daun-daunan, limbah sayuran dan buah dan limbah rumah
tangga lainnya sisa dari memasak; dan sampah non organik yang dipilah
lagi menjadi dua yaitu plastik dan kaca. Sampah organik dimasukkan dalam
tong dengan label sampah organik, dan sampah non organik dimasukkan
dalam dua tong yang berbeda, yaitu plastik dan kaca. Kemudian tong
sampah yang sudah di letakkan dengan jarak sepuluh rumah tersebut
diangkut oleh petugas untuk diolah lebih lanjut. Sampah organik dibuat
sebagai kompos atau pupuk organik sedangkan sampah yang non organik
dipilah lagi sesuai dengan jenisnya. Untuk sampah dari plastik dan
kaca/botol langsung dijual ke pengepul sedangkan sampah dari sisa
potongan bahan pakaian dikumpulkan di rumah kain perca untuk dibuat
aneka kerajinan seperti kesed, tas dan lain sebagainya. Disamping itu
sampah plastik yang terbuat dari alumunium foil yang tidak laku untuk dijual dibawa ke rumah kerajinan tas yang dikelola oleh kader lingkungan di desa tersebut.
Pengelolaan sampah secara mandiri yang dilakukan oleh warga desa
Sukunan ini menarik minat peserta studi banding karena ide pengelolaan
sampah ini muncul dari salah seorang warga yang kebetulan menjadi dosen
lingkungan hidup di salah satu perguruan tinggi di kota Sleman. Keluhan
warga mengenai sampah desa yang tidak terurus menjadikan beliau
menggandeng donatur untuk mewujudkan pengelolaan sampah terpadu secara
mandiri. Dari kesepakatan warga dalam rembuq desa, akhirnya disepakati
untuk menerima program pengeloaan sampah mandiri tersebut. Kemudian
dilanjutkan dengan sosialisasi kepada warga selama hampir tiga bulan dan
pembuatan media tong sampah oleh warga yang tergabung dalam kelompok
peduli lingkungan.
Selain pengelolaan sampah, di desa tersebut kini
mengelola instalasi pengolah limbah (IPAL) komunal. Limbah jamban rumah
tangga yang awalnya dibuang dalam sapit tank pribadi disalurkan dalam
saluran IPAL komunal tersebut. hasil dari pengolahan IPAL komunal
tersebut berupa air yang sudah tidak tercampur dengan bakteri ecoli
tersebut kemudian di alirkan untuk mengairi sawah di desa tersebut.
Selain mengelola IPAL komunal yang merupakan bantuan dari Pemerintah
Jepang, kelompok peduli lingkungan juga mengelola biogas hasil dari
pengelolaan kandang komunal. Biogas tersebut kemudian disalurkan ke unit
rumah tangga untuk dijadikan pengganti bahan bakar gas dari pertamina.
Dengan pengelolaan sampah dan limbah yang terpadu ini
desa Sukunan menjadi objek wisata lingkungan yang menarik wisatawan
domestik maupun manca untuk belajar pengelolaan sampah secara mandiri.
(Buono-Mandiri FM, melaporkan)
Senin, 02 September 2013
Desa Tangkil Kulon Menuju Sentra Agrobisnis Berbasis Lokal
Desa Tangkil Kulon Menuju Sentra Agrobisnis Berbasis Lokal
5 Agu
Rate This
Sepanjang mata memandang, hamparan padi menghijau akan menyejukkan suasana hati, desiran angin sepoi-sepoi yang bertiup menjadikan suasana tenang dan tenteram, apalagi gemericik air yang mengalir menambah suasana makin eksotis. Suasana seperti itu yang kami rasakan ketika berada di Desa Tangkil Kulon Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Desa Tangkil Kulon merupakan salah satu desa di Kecamatan Kedungwuni, yang terletak di sebelah utara Kecamatan Kedungwuni berbatasan dengan Kecamatan Tirto, berjarak sekitar 9 km dari pusat pemerintahan yaitu Kajen , yang dapat ditempuh sekitar 40 menit bila menggunakan kendaraan pribadi. Desa Tangkil kulon memiliki konfigurasi berupa dataran rendah dengan ketinggian antara 5 – 10 m diatas permukaan laut. Suhu di wilayah Tangkil kulon masih dalam batas normal. Kondisi tanah terdiri dari persawahan, pekarangan dan permukiman penduduk. Secara geografis wilayah ini membentang dari utara ke selatan, dengan luas wilayah 111,339 ha. yang terdiri atas 22,010 Ha daerah permukiman; 38,960 Ha berupa Tanah Sawah; 44,194 Ha berupa Tanah Pekarangan; luas kuburan 0,875 Ha; perkantoran 0,300 Ha; dan sarana umum lainnya 5 Ha, terbagi menjadi 6 RW dan 19 RT. Batas wilayah Desa Tangkil Kulon terbagai atas: v Sebelah Utara : Ngalian v Sebelah Selatan : Bugangan v Sebelah Timur : Tangkil Tengah v Sebelah Barat : Rengas
Nuansa agamis mewarnai kondisi budaya yang ada di masyarakat Desa Tangkil Kulon. Salah satu bentuk seni budaya yang telah ada sejak lama adalah Seni Simtu Duror. Seni ini dikelola oleh satu kelompok yang dipimpin oleh Ustad Supardi. Aktivitas kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulan dan jika ada khajatan masyarakat baik pernikahan maupun khitan/sunatan.
Tangkil Kulon merupakan sentra penghasil padi di Kecamatan Kedungwuni dengan lebih dari 35% luas wilayahnya (38,96 Ha) merupakan lahan pertanian irigasi tehnis. Aktivitas perdagangan gabah terlihat saat panen tiba. Pedagang dari luar Kabupaten Pekalongan menjadikan Desa Tangkil Kulon sebagai pusat transaksi jual-beli gabah untuk wilayah Tangkil Kulon, Tangkil Tengah, Bugangan Rengas dan wuled. Truk-truk pengangkut hasil pertanian untuk wilayah tersebut menjadikan Desa Tangkil Kulon sebagai transit sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pusat perdagangan gabah.
Hamparan sawah yang luas dibelah oleh sungai sepanjang wilayah desa menjadikan Desa Tangkil Kulon sangat potensial untuk kegiatan budidaya ikan air tawar dan lokasi wisata dengan dukungan kondisi alam yang khas pedesaan.
Industri konveksi dan batik merupakan ciri khas Kabupaten Pekalongan. Desa Tangkil Kulon memiliki 36 unit usaha industri konveksi dan 5 unit usaha batik skala rumah tangga (home industry) yang menyerap 445 tenaga kerja yang tersebar di tiap-tiap pedukuhan.
Industri makanan ringan Opak dan renginan singkong merupakan mata pencaharian hampir seluruh penduduk pedukuhan Karanggayam Desa Tangkil Kulon yang terletak di Rt. 18 – 19 Rw. 06. Rasa opak dan renginan singkong Karanggayam yang gurih dan renyah sudah dikenal oleh masyarakat Tirto, Wiradesa, Kedungwuni dan Bojong. Produk industri rumah tangga ini sudah menjadi oleh-oleh warga Pekalongan yang ada di Jakarta.
Jumlah peternak sapi sebanyak 14 kelompok usaha, peternak kambing 25 kelompok usaha, peternak bebek 4 kelompok usaha dan peternak ayam 1 kelompok usaha merupakan penggerak ekonomi warga Desa Tangkil Kulon, dengan meningkatkan kapasitas keahlian beternak didukung oleh dukungan permodalan dari Pemerintah, kedepan Desa Tangkil Kulon bisa menjadi produsen daging untuk wilayah Pekalongan dan sekitarnya.
Kehidupan masyarakat agamis dengan tetap memelihara adat budaya lokal/setempat merupakan potensi yang sangat terlihat di masyarakat untuk membangun wilayah Desa Tangkil Kulon. Salah satu bentuk budaya yang masih ada sampai saat ini adalah seni Simtu Duror. Seni Simtu Duror sudah menjadi milik masyarakat secara turun temurun sehingga dapat dilakukan oleh anak-anak sampai orang lanjut usia. Seni ini menjadi ladang syiar agama Islam sekaligus arena atau wadah bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyampaikan informasi.
Setiap kali ada program pemerintah, antusias masyarakat cukup tinggi dengan dibuktikan adanya swadaya yang terkadang melebihi nilai yang semestinya dari kegiatan yang dilaksankaan dalam program tersebut. Nilai kebersamaan dalam semangat gotong royong masih tampak kuat mengakar di masyarakat. Keswadayaan masyarakat yang tinggi menjadi potensi dalam pengembangan kawasan Desa Tangkil Kulon.
Hadirnya radio komunitas pemberdayaan Pekalongan, Mandiri FM yang selalu menginformasikan kegiatan PNPM-MP Kabupaten Pekalongan pada umumnya dan LKM Tunas Karya Mandiri pada khususnya dijadikan warga desa Tangkil Kulon sebagai media informasi mengenai pemberdayaan masyarakat disamping sebagai media hiburan. Hadirnya Mandiri FM ini dapat dijadikan sebagai media promosi usaha kecil dan menengah sehingga produk mereka dapat lebih dikenal oleh masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.
Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Lokal
Melihat potensi Desa Tangkil Kulon Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan tersebut, LKM Tunas Karya Mandiri bersama Pemerintah Desa dan masyarakat akan mengembangkan Desa Tangkil Kulon sebagai desa agribisnis berbasis lokal. Desa agribisnis adalah desa yang berbasiskan pada sektor pertanian dalam menunjang pengembangan sektor industri pertanian. Sumber Daya Lokal adalah sumber daya manusia dan sumber daya alam yang terdapat di Desa Tangkil Kulon.
Adapun pengembangan kawasan agribisnis berbasis lokal yang saat ini akan dikembangkan adalah :
1. Program Pengembangan Diversitifikasi Pertanian
- Agribisnis padi organik
- Kegiatan budidaya perikanan darat
Sistem budidaya yang dilakukan di dalam ruangan memiliki beberapa keunggulan yaitu lahan yang digunakan tidak terlalu luas, perkembangan ikan lebih terkontrol dengan produksi sebanding dengan kolam yang lebih luas. Komoditas ikan yang dapat dilakukan dengan menggunakan sistem ruangan yaitu ikan lele dumbo, patin, bawal dan ikan gurame. Sedangkan kegiatan pembenihan dan pendederan ikan Nila dan Baster serta pembesaran Lele dumbo akan dilakukan di kolam terbuka.
- Kegiatan pengembangan argowisata
Bidang peternakan di Kawasan Agro akan memaksimalkan pengemukan ternak sapi dan domba. Pada proses pengemukan sapi dan domba akan dikaji tentang teknologi pakan sehingga akan dihasilkan penambahan berat ternak yang cepat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selain pengkajian teknologi pakan, juga akan dilakukan pengkajian tentang teknologi pemanfaatan limbah ternak, antara lain untuk pengomposan dan biogas. Hasil pengkaj ian ini akan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, terutama yang telah tergabung dalam kelompok petani peternak sapi dan domba.
Bidang Perikanan pada pengembangan Kawasan Agro akan menitikberatkan pada pengembangan wisata perikanan dan teknik budidaya perikanan. Pada teknik budidaya perikanan juga akan dikaji tentang teknik budidaya perikanan yang memungkinkan dikembangkan di Kabupaten Pekalongan.
Pengembangan Kawasan Agrowisata Tangkil Kulon ini akan melibatkan petani yang merupakan anggota Kelompok Tani Desa Tangkil Kulon, sehingga akan memudahkan transfer teknologi ke petani. Selain itu dengan keterlibatan kelompok tani pengembangan Kawasan Agrowisata Tangkil Kulon akan lebih terfokus kepada upaya untuk menghasilkan teknologi terapan yang berguna untuk meningkatkan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan.
Pengembangan Kawasan Agrowisata Tangkil Kulon selain dapat menghasilkan teknologi-teknologi yang bermanfaat bagi petani, diharapkan juga akan mendorong tumbuhnya sentra usaha pertanian lain di sekitar Kawasan Agro yang mendukung pengembangan kawasan agro, misalnya usaha-usaha nursery tanaman hias.
Kawasan Agrowisata Tangkil Kulon juga akan difungsikan sebagai pendukung program life skill pertanian pada bidang pendidikan. Pengembangan Kawasan Agrowisata Tangkil Kulon jangka panjang diarahkan untuk menjadi suatu Kawasan Agrowisata yang mendukung pengembangan pertanian. Kawasan
Agrowisata pada prinsipnya merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) untuk mempeluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan. Pengembangan Agrowisata Tangkil Kulon disesuaikan dengan kapasitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan diharapkan dapat melestarikan sumber daya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat
sekitarnya. Hal ini karena pengembangan agrowisata pada akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan dengan adanya unit-unit usaha disekitar wilayah agrowisata yang mendukung pengembangan Kawasan Agrowisata.
- Kegiatan agribisnis peternakan
- Agribisnis penggemukan sapi potong
- Agribisnis ternak sapi perah
1) Tingkat besarnya laba tidak fluktuatif, tetapi cenderung naik.
2) Harga susu sapi perah cenderung selalu naik
3) Produk sampingan dari usaha sapi perah memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan usaha lainnya.
4) Resiko penyakit relatif kecil
5) Resiko keamanan relatif kecil
6) Mendorong tumbuhnya industri ikutannya yaitu pengolahan susu sterilisasi, susu pasteurisasi, yohurt, ice cream, bahan cosmetic, mentega, keju, dan sebagainya.
- Agribisnis ternak domba
1) Kesesuaian agroklimat dengan karakteristik ternak domba
2) Tradisi beternak domba sudah membudaya di masyarakat petani peternak
3) Tersedianya kelembagaan usaha baik berupa Kelompok dan Koperasi peternak domba
4) Peluang pasar sangat besar karena adanya kecenderungan peningkatan konsumsi daging termasuk daging domba
5) Tersedianya pasar hewan (domba/kambing) yang cukup memadai.
Bagi masyarakat petani peternak, agribisnis ternak domba selain sebagai sumber pendapatan keluarga juga berfungsi sebagai; sumber protein hewani, tabungan petani peternak, penghasil pupuk kandang, penghasil kulit, hewan pembersih gulma, hewan kesayangan, dan hewan kurban bagi umat Islam.
2. Program Pengembangan Paska Panen
Program ini meliputi pemenuhan kebutuhan pakan ternak melalui pemanfaatan limbah paska panen melalui :
- Pembuatan jerami fermentasi dan silase
Jerami padi fermentasi dapat diberikan sebagai pakan ternak ruminansia (sapi potong, sapi perah, domba dan kambing) sebagai substitusi rumput segar.
Dengan cara demikian, pemanfaatan hijauan pakan ternak dalam bentuk jerami padi akan dapat dilakukan sepanjang tahun dan lebih efisien dalam pemanfaatan waktu dan tenaga peternak. Nilai nutrisi jerami padi, jerami padi fermentasi dan rumput gajah (Pannissetum purpureum).
- Pembuatan konsentrat
Ketersediaan konsentrat untuk pakan ternak sebagai pendukung pengembangan agribisnis mutlak dilakukan. Kualitas, kuantitas dan kontinyuitas penyediaan konsentrat, sangat berpengaruh pada tingkat produktifitas ternak.
3. Pembangunan dan Pengembangan Rumah Potong Hewan
Pebangunan dan pengembangan RPH dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa dalam hal pemotongan hewan yang halal, aman, utuh, dan sehat.
4. Program Composting Communal
Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah terpadu merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan (persampahan) dengan melakukan proses Reduksi, Recycle dan Reuse (3R). Sampah yang sudah melalui pemilahan yaitu sampah organik akan diproses untuk bahan setengah jadi kompos dan sampah anorganik yang sudah tidak dapat di recycle dan reuse akan dipadatkan untuk kemudian dibuang.
5. Pembangunan Pasar Desa dan Pengembangan Jejaring Usaha
Pembangunan pasar desa bertujuan sebagai sarana untuk :
a. memasarkan hasil produksi desa;
b. mendorong masyarakat desa agar mampu berproduksi dan mengolah hasil produksi desa;
c. menciptakan lapangan kerja;
d. meningkatkan pendapatan asli desa;
e. mendorong kehidupan perekonomian desa;
f. mendorong kehidupan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dan Koperasi Unit Desa (KUD).
Pengembangan jejaring usaha dilakukan melalui rintisan trading house dengan cara :
1. Sentra Produktivitas agropolitan, antara lain
1) Padi organik yang dilakukan secara bertahap
2) Jenis ikan Leledumbo, Patin, Bawal, Baster, Nila.
3) Ternak Sapi potong, Sapi perah dan Domba.
2. Produktivitas KUKM, antara lain
a) KUKM Off Farm agropolitan
- Makanan dan Minuman
- Cenderamata dan assesoris
- Industri Pengemasan
- Pakan ternak
- Pupuk Organik (Granular)
b) KUKM pengembangan
- Industri Pengolahan kayu
- Industri Konveksi dan Batik
Berikutnya membangun pusat promosi dan informasi peluang pasar dengan memanfaatkan radio komunitas yang sudah ada (Mandiri FM) dan pengembangan website LKM Tunas Karya Mandiri sebagai sarana promosi dan internet marketing.
6. Pemberdayaan KUKM disegala bidang dan Fasilitasi Perkuatan Modal
Peningkatan ketrampilan dan pemberdayaan kewirausahaan KUKM dilaksanakan melalui beberapa kegiatan sesuai dengan hasil penataan KUKM, antara lain: Peningkatan jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) melalui pendekatan achievment motivation training (AMT); Peningkatan pengetahuan manajemen dan ketrampilan teknis; serta pemberian modal bergulir.
Langganan:
Postingan (Atom)